Rabu, 02 November 2011

Masalah dan Motivasi

NEOPLASMA
Well, motivasi itu seperti semacam  dukungan/dorongan dari sesuatu untuk melakukan sesuatu. Motivasi itu bisa berasal dari mana aja. Bisa dari orangtua, idola, pacar (bagi yang punya), temen, sahabat, diri sendiri bahkan musuh (oke diperhalus : orang  yang  ga kita suka).
Masalah, mm, masalah itu sebenernya temen atau sahabat kita yang terbaik dan paling jujur loh. Coba geh renungin, karena ada masalah, kita jadi bisa tau kebiasaan buruk/sifat buruk apa yang harus kita ubah. Setelah ada masalah pasti ada perbaikan kan ? (harus mestinya, hehe)
Oke, aku mau sharing sedikit nih tentang 2 hal yang beda tapi saling berkaitan ini (motivasi sama masalah maksudnya).
Motivasi terbesar aku sekarang ini adalah dari “oranglainyanggapernahketemusamaakusebernernya”. Aku bener-bener berterima kasih sama “orangasingitu”, karena berkat dia, walaupun secara ga langsung, aku bisa jadi siswi yang rajin sekarang, dan gak sadar nilai-nilaiku juga makin membaik  (alhamdulillah, makasi ***). Tiap aku ngerasa males buat belajar, aku jadi keinget semua omongan orang itu (loh, gapernah ketemu tapi ko pernah diomongin?  maaf itu rahasia hehe, bagi yang tau diem diem yaa :D), seketika itu juga males aku jadi ilang. Jadi semangat lagi deh buat belajar :D mikirnya pasti gini “aduh, ayo dong refina, jangan males-males! Katanya mau nunjukkin ke “orangasingitu”? ayo bangun dari tempat tidur, ambil buku, fokus! Jangan tidur dulu sebelum kamu dapet minimal 1 materi aja. Kalo kamu males-malesan terus, kamu ga akan bisa nunjukkin, ref..” hehe, begitulah kata suara dalam hati aku..
Omongan “orangasingitu” juga masih teringat jelas di otakku. Sangat jelas, SANGAT SANGAT JELAS! Demi apa, ga akan mungkin bisa di lupain deh pokok nya, apalagi kalo inget disitu ada kata “hell”, aaaaarggggh! Kata-katanya emang singkat, tapi makna nya ngena banget, sampe ke ulu hati. Gimana coba perasaan kalian kalo diomongin kek gitu, padahal kalian itu sama sekali gapernah ketemu atau kenal sama orang ngomngin kalian itu ???? marah kah ? kesel kah ? benci kah ? atau apaa ?
Oke, aku akui waktu itu (waktu “orangasingitu”  ngomong) aku cuma bisa berdiri kaku sambi menganga dan gabisa mikirin apa-apa, alias kosong (aku kenapa yaa? ), terus, aku langsung masuk kamar dan nyoba buat ngetes “ini mimpi apa bukan, sih?” sambil nyubit-nyubitin pipi ama tangan, SAKIT! Ternyata aku ga mimpi :( . aku cuma bisa diem kaku sambil ngeliat ke kaca dan mikir “kenapa ini terjadi? Apa penyebabnya? Aku salah apa? Dan kenapa pula “orangasingitu” bawa-bawa kata “hell” ?”
Mungkin dimata “orangasingitu”, aku itu ga baik, urak-urakkan, nakal, ga beragama atau apalah yang sejenisnya. (tapi tolong diinget: INI SEMUA GA BERNER!!!)
Dan itulah yang nyebabin aku jadi punya obsesi yang tinggi buat ngebuktiin am “orangasingitu” kalo aku itu GA SEBURUK YANG DIA PIKIRKAN. Nah, makannya sekarang aku jadi kek gini (temen-temen sekelasku pasti tau maksudnya hehe). Bener-bener pingin buktiin ke “orangasingitu”. Aku belum mau mati sebelum ngewujudin impian aku ini (dan sebelum melihat/bahkan memberengkatkan kedua orangtuaku pergi ke Mekah dan juga sebelum melihat adik-adikku sukses, amiiiiiin).
 “...I’LL FIGHT. I’LL SHOW MY BEST TO YOU. I’LL STUDY HARD FOR IT. I’LL PRAY FOR IT. I’LL NOT EVER GIVE UP UNTIL I GET WHAT I WANT...”
(Tapi sebenernya gatau kenapa aku gabisa benci sama “orangasingitu”, padahal dia itu udda bener-bener nyaktitn hati aku banget, tapi okelah, fine, ambil aja hikmahnya..)
Emang ceritanya agak ganjil, karena ada yang dicrop hehe, maaf yaa..
Maksud aku nulis postingan ini, itu buat nunjukkin ke kalian contoh nyata kalo sebenernya masalah itu bisa jadi motivasi “terbaik” kita, kalo kita bisa ngambil hikmah sari semuanya,  nganggep itu positif dan ga terus-terusan terlarut di dalamnya. (ingat: semua orang PASTI punya masalah). Dan sebenernya hidup itu ga akan seru kalo ga ada masalah. Bakal “flat” pasti. Bener kan ? okee, kalo gitu, cobalah mulai sekarang buat ga nganggep masalah itu kek beban yang beraaaaaaat banget. Tapi sebenernya emang berat sih kalo kita nganggepnya berat (makanyh jangan dianggep berat!!! Ayoo semangat!). ingat lagi: semua orang PASTI punya masalah, semua orang itu pasti pernah ngelakuin kesalahan. So, jalanin ajaa, jangan dianggep berat,  soalnya semakin dianggep berat, masalah itu malah semakin ganas loh. Jadiin itu buat motivasi dan perbaikan buat ke depannya ajaa :)

Hubungan antara IQ dan Kecerdasan

NEOPLASMA Menurut Dr C. George Boeree dari Universitas Shippensburg, kecerdasan adalah kapasitas seseoang untuk :
1.       Memperoleh pengetahuan (mempelajari dan memahami)
2.       Menerapkan pengertahuan (memecahkan masalah)
3.       Melakukan penalaran abstrak
Ini adalah kekuatan intelektual seseorang, dan karena itu jelas merupakan aspek yang sangat penting dari seseorang secara keseluruhan kesejahteraan. Psikolog  telah berusaha mengukur itu selama lebih dari satu abad.
Beberapa cara lain untuk mengukur kecerdasan telah diajaukan . Daniel Schacter, Daniel Gilbert, dan lain lain telah melampaui kecerdasan umum dan IQ sebagai satu-satunya cara untuk menggambarkan kecerdasan.
American Pshychological Association Laporan Intelijen: Knowns dan tidak diketahui menyatakan bahwa tes IQ sebagai prediktor prestasi sosial tidak bias terhadap orang-orang keturunan Afrika, karena mereka meramalkan kinerja masa depan, seperti prestasi sekolah, mirip dengan cara mereka mereka meramalkan kinerja masa depan orang-orang keturunan Eropa.
Namun, tes IQ mungkin menjadi bias ketika digunakan dalam situasi lain. Sebuah studi 2005 menyatakan bahwa “perbedaan validitas dalam prediksi menunjukkan bahwa tes WAIS-R mungkin  berisi pengaruh budaya yang mengurangi validitas dari WAIS-R sebagai ukuran kemampuan kognitif untuk siswa Amerika Meksiko”, menunjukkan kolerasi positif lemah relatif terhadap siswa putih sampel. Studi terbaru lainnya mempertanyakan kewajaran budaya tes IQ bila digunakan di Afrika Selatan tes kecerdasan Standar, seperti Stanford-Biner, sering tidak sesuai untuk anak-anak dengan autisme; alternatif menggunnakan perkembangan atau adaptif keterampilan mengukur merupakan ukuran relatif miskin kecerdasan pada anak-anak autis, da mungkin menghasilkan yang tidak benar klaim bahwa mayoritas anak-anak dengan autisme mental retarded.
Sebuah artikel 2006 review mengatakan bahwa analisis arus utama kontemporer tes tidak mencerminkan perkembangan  terakhir di lapangan besar dan “dikenakan kemiripan luar biasa kepada negara psikometri seni sebagaimana yang ada pada 1950-an.”
Pandangan dari American Psychological Association menanggapi kontroversi sekitar Kurva Bell, American Psychological Association Dewa Urusan Ilmiah membentuk gugus tugas pada tahun 1995 untukmenulis penyataan konsensus tentang keadaan penelitian intelijen yang dapat digunakan oleh semua pihak sebagai dasar untuk diskusi. Teks lengkap dari laporan tersedia melalui beberapa situs. Dalam makalah ini wakil dari asosiasi penyesalan yang bekerja IQ-terkait sering ditulis dengan tujuan untuk konsekuensi politik mereka: “temuan penelitian sering dinilai tidak begitu banyak manfaat atau berdiri ilmiah mereka seperti pada implikasi politik mereka seharusnya”. Gugus tugas menyimpulkan bahwa skor IQ memiliki validitas predikitf tinggi untuk perbedaan individual dalam prestasi di sekolah. Mereka mengkonfirmasi keabsahan prediktif dari IQ untuk status pekerjaan orang dewasa, bahkan ketika variabel seperti pendidikan dan latar belakang keluarga telah statistik dikendalikan. Mereka menemukan bahwa perbedaan individu dalam intelijen secara substansial dipengaruhi oleh genetika dan bahwa  kedua gen dan lingkungan, dalam interaksi yang rumit, sangat penting untuk perkembangan kompetensi intelektual.
Mereka menyatakan ada sedikit bukti untuk menunjukkan bahwa diet mempengaruhi kecerdasaan anak kecuali dalam kasus-kasus gizi buruk. Gugus tugas setuju bahwa memang ada perbedaan besar antara nilai IQ rata-rata kulit hitam dan kulit putih, dan bahwa perbedaan inti tidak dapat dikaitkan dengan bias dalam konstruksi tes. Gugus tugas menunjukkan bahwa penjelasan berdasarkan status sosial dan perbedaan budaya yang mungkin dan bahwa faktor lingkungan telah menaikkan nilai tes berarti pada populasi banyak. Mengenai penyebab genetik, mereka mencatat bahwa tidak banyak bukti langsung mengenai hal ini, tapi apa sedikit ada gagal untuk mendukung hipotesis genetik.

Selasa, 01 November 2011

Song-westife :)

"Fragile Heart"

A fragile heart was broken before

I don't think it could endure another pain
But there's a voice from deep inside of you
That's calling out to make you realize

That this new bond gives inspiration

To all who feel no love appeal no more
So how can I break this wall around you
That's aiding both our hearts to grow in pain

So forget your past, and we can dream tomorrow

Save our hearts for card and lovin too
It's hard I know, but oh
One thing for sure
Don't go and break this fragile heart

A hurting mind in need of emotion

I don't think I could endure another pain
But baby in you, I've found affection
Affection I have never felt before

So don't let your past destroy what comes tomorrow

Don't go and break my fragile heart

With all this fire that burns between us

There's so much to lose
Yet so much more to gain
And if I could, choose the world around me
The world I'd choose would all revolve around you
So help me complete the game inside me
And help to mend my fragile heart